Memandang Serikat Buruh dari Sudut yang Baru: Sebuah Catatan Praktikum

 


Oleh: Syahrul Ramadan Ditra | Mahasiswa Praktikum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Praktikum Pekerjaan Sosial di sektor industri, khususnya di serikat buruh/pekerja merupakan hal yang baru bagi mahasiswa ilmu kesejahteraan sosial di Indonesia. Umumnya, praktikum pekerjaan sosial dilakukan pada lembaga pelayanan sosial di ruang lingkup panti, lembaga filantropi, maupun instansi pemerintah seperti Dinas Sosial maupun dinas pemberdayaan anak dan perempuan. Sementara itu serikat buruh/pekerja memiliki sifat dan bentuk yang berbeda dari lembaga-lembaga pelayanan sosial yang telah disebutkan sebelumnya.

Serikat buruh/pekerja merupakan organisasi yang diusung, dikelola dan diperuntukan secara mandiri untuk buruh/pekerja. Serikat buruh/pekerja dalam beragam aktivitasnya berusaha untuk melindungi kepentingan dan hak-hak normatif sehingga muaranya tercipta kesejahteraan bagi buruh dan keluarga.

Sebagai mahasiwa yang diberi kesempatan belajar 3 bulan penuh di serikat buruh, saya merasa sangat beruntung mendapat pengalaman yang sangat berarti dan berharga. Pengalaman yang sebelunya tidak pernah terbesit atau bahkan terlintas sedetik pun dalam pikiran. Salah satu diantara pengalaman menarik tersebut, saya melihat potret permasalahan sosial yang tergambar nyata berdasarkan situasi yang dihadapi buruh dalam dunia kerja.

Beberapa diantara problem perburuhan seperti PHK, Kerja Lembur, Upah tidak sesuai, sistem outsourcing dan pekerja yang menuai banyak kontra, hingga kebijakan yang tidak berpihak pada buruh. Berbagai permasalahan tersebut menjadi  bentuk-bentuk permasalahan sosial nyata yang dihadapi langsung oleh mereka. Pelanggaran hak-hak pekerja tersebut berimbas pada sulitnya mereka mengakses kesejahteraan hidup yang layak.

Dalam suatu kesempatan misalanya, upaya memeperjuangkan potongan upah pokok dan upah lembur bagi pekerja hotel dengan melakukan bipartite dengan melibatkan sejumlah anggota serikat yang menghadap dengan manajemen jauh lebih dipertimbangkan. Hasilnya, tidak ada lagi kasus pemotongan upak kerja dan upah lembur. Serikat pekerja tidak mungkin hanya melakukan kerja advokasi semata. Serikat pekerja juga melibatkan upaya kolektif dalam meningkatkan kualitas pengetahuan anggotanya.

Melalui agenda-agenda pelatihan dan pendidikan Bersama, setiap peserta diharapkan dapat meningkatkan nilai, pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berorganisasi. Dengan anggota yang terdidik maka roda organisasi dapat bergerak lebih jauh. Oleh karenanya, nuansa kolektif dalam serikat pekerja ini menjadi hal yang mendasar dan terasa saat ketika mengupayakan kesejahteraan yang menjadi haknya.

Sangat menarik menjadikan serikat buruh sebagai media belajar dalam mengimplementasikan keilmuan dalam bangku kuliah. Dinamika belajar tentang situasi ketenagakerjaan yang nyata dan managemen organisasi didalamnya seakan menjadi suatu tantangan yang menarik untuk dihadapi.  Sisi lain Ilmu Kesejahteraan Sosial yang terbiasa dipelajari didalam kampus menjadi memiliki ruang dan cakupan yang lebih berkembang seiring dilakukanya praktikum pekerjaan sosial didalamnya.

Pembelajaran mendalam tersebut akan semakin berkembang ketika dimensi serikat buruh juga dikembangkan dalam kajian penelitian Ilmu Kesejahteraan Sosial. Disamping itu banyak sekali pelajaran hidup yang mengesankan ketika bertemu dengan orang-orang didalamnya. Pelajaran hidup itu salah satunya ketika bertemu seseorang yang bernama Florentina Rahayu.

Dia adalah sosok wanita tangguh dan perkasa yang saya kenali sejak pertama kali di tanggal 1 Oktober 2021. Sejak pertama perjumpaan, gestur tubuh dan gaya bicara perempuan ini telah menunjukan seseorang perempuan yang sangat berbeda dari beberapa perempuan yang saya kenal. Mulanya pernyataan demikian hanya sekedar gambaran pertama kali kenal, namun rupanya anggapan tersebut seutuhnya benar.

Saya mengetahui beliau adalah perempuan pekerja yang menempati tiga jabatan ketua dalam 1 periode. Ketiga jabatan itu adalah Ketua SPM Sheraton Mustika Yogyakarta, Ketua FSPM Regional DIY-Jateng serta Ketua Marriott Indonesia Union Council. Kemampuanya mengelola 3 organisasi dalam satu waktu ditambah pekerjaan dan urusan rumah tangga menunjukan betapa tangguh dirinya.

Masih terngiang dengan jelas pernyataannya dalam kesempatan ngobrol di waktu itu, “Saya memang dididik dari kecil mandiri dan ayah saya mendidik seperti itu. Oleh karena itu saya cukup berani mengambil resiko dalam beberapa hal” ucapnya.

Pelajaran hidup dari seorang perempuan pekerja dan perempuan pemimpin ini sangat membuat saya terkesan. Selain itu, pelajaran ini juga mengajarkan saya tentang kenyataan hidup yang penuh resiko dan keberanian untuk menghadapinya adalah modal dasar yang sangat dibutuhkan.

Pengalaman yang saya tuliskan ini merupakan sedikit cerita yang bisa saya sampaikan. Selebihnya saya menyarankan kepada banyak mahasiwa di luar sana untuk jauh lebih mengetahui tentang serikat pekerja. Bukan sekedar tentang keilmuan dasar yang kemudian dapat diaplikasikan. Melainkan tentang pelajaran penting yang dapat dijadikan sebagai bekal agar hidup akan jauh lebih berwarna.

 

Sepenuhnya ditulis dari hati yang paling dalam,

Bandungan, 29 November 2021.


Posting Komentar

© 2013 - 2021 Federasi Serikat Pekerja Mandiri. Developed by Jago Desain